Rekomendasi Playlist Pekan Ini: Relax and Remember a Things



Jika kamu senang mendengarkan musik dengan beat yang tidak terlalu cepat, mungkin kamu akan suka dengan rekomendasi musik yang satu ini. 

Tidak terlalu keras, tidak terlalu lambat.
Mungkin ini cocok untuk menemani waktu luang kamu.





Anti by Rihanna






“Anti“, album kedelapan milik si fenomenal Rihanna, merupakan salah satu yang telah cukup lama dinanti keberadaanya. Bukan hanya menjadi album yang (kembali) memecah tradisi satu album pertahun yang ditorehkannya semenjak debut “Music of the Sun” (2008), namun juga karena para penikmat musik menjadi penasaran mengapa RiRi bisa begitu lama memendam atau mengerjakan album ini. Tepatnya 4 tahun setelah “Unapologetic” yang dirilis di tahun 2012.

Dalam masa hiatus, kita nyaris tidak mendapatkan materi baru dari RiRi, sesuatu yang selama hampir satu dekade terakhir tidak kita alami. Namun mulai tahun lalu ia mulai bergiat dengan merilis beberapa single baru, yaitu ‘FourFiveSeconds’, ‘American Oxygen’, dan ‘Bitch Better Have My Money’ (selain proyek soundtrack film animasi “Home” yang dibintanginya), yang setidaknya bisalah memuaskan kerinduan.

Namun ada yang menjadi catatan saat menilik lagu-lagu ini. Hilang sudah RiRi yang pop, ngedance dan fun. Lagu-lagu yang terkesan serius, “berat”, gelap dan artistik. Bagus, tapi sepertinya akan sulit diapresiasi oleh kalangan yang lebih luas.

Sampai datang ‘Work’, sebuah nomor dancehall-pop yang kembali mengajak ke masa-masa bersenang-senang ala Rihanna. Ada pula Drake yang kembali membantu RiRi. Bersama mereka kembali menorehkan prestasi dengan menduduki #1 Billboard Hot 100, setelah ‘What’s My Name?’ (2010). Jelas jika harapan jika “Anti” akan diisi oleh lagu-lagu sejenis ini menjadi besar.

Hanya saja rupanya RiRi tidak begitu berminat untuk memuaskan pasar dengan begitu saja. Selebihnya “Anti” banyak diisi oleh lagu-lagu yang cenderung bergerak dalam tempo lambat hingga sedang, menawarkan balada pop, urban jam, hingga folk dan psychedelia. Rupanya RiRi memang hanya ingin tampil idealis, meski tiga track yang dilepasnya sepanjang 2015 absen menghiasi albumnya.

“Anti” menandakan sebagai album kedua milik RiRi yang sukses duduk di singgasana Billboard 200. Bisa jadi kesuksesan ini dikarenakan antusiasme penggemar dengan keberadaan album yang sudah cukup lama ditunggu ini. Namun kesuksesan “Anti” seharusnya juga disematkan dengan pilihan materi yang menegaskan sosok RiRi tidak hanya sebagai ikon pop, namun musisi dengan artistik dan idealisme tersendiri.

Dibuka dengan nomor urban yang edgy, dimana RiRi bernyanyi dengan mengedepankan akar Karibianya, ‘Consideration’. Dibantu SZA, penyanyi up-and-coming, bersama mereka mengantarkan sebuah dancehall yang sedikit dipoles dengan rock dan pop. Sebuah contoh yang cukup sempurna akan perpaduan sisi artistik dan pop yang ditawarkan RiRi untuk “Anti”.


cover album ANTI


Terlepas ‘Work’ yang berada di urutan ke-4, paruh pertama “Anti”, yang terdiri atas 13 track untuk versi standar, diisi dengan lagu-lagu yang cenderung akan agak sulit dicerna, mengingat komposisi yang sedikit kompleks dan pemilihan nada-nada yang tidak terlalu gampang dicerna. Meski begitu bukan berarti lagu-lagu ini berat juga. ‘Kiss It Better’ atau ‘Needed Me’ mungkin bisa menjadi calon airplay radio juga, sementara ‘Desperado’ atau ‘Woo’ bisa jadi terdengar kelam dan depresif untuk bisa menjadi konsumsi radio.

Paruh kedua barulah diisi dengan lagu-lagu dengan tingkat “ke-catchy-an” yang lebih tinggi. Mulai dari ‘Same Ol’ Mistakes’, sebuah track rock psychedelia yang sebenarnya adalah cover version dari salah satu lagu Tame Impala, ‘New Person, Same Old Mistakes’, yang merupakan bagian dari album “Currents” (2015). Anehnya, meski tidak mengalami perubahan secara aransemen, lagu ini serasa pas sekali dengan warna RiRi. Bahkan ketukan melodi dan ritme lagu seolah-olah diciptakan untuk RiRi. Pada beberapa bagian mengingatkan akan ‘Umbrella’, salah satu hits terbesarnya, meski dalam versi yang lebih “gelap”.

Dalam ‘Never Ending’, RiRi menjelma menjadi penyanyi balada folk yang menghanyutkan. Lagu ini memberi penekanan jika RiRi merupakan salah satu penyanyi yang kuat, secara vokal maupun penjiwaan, dalam menyanyikan balada. Selanjutnya ia menghadirkan salah satu track paling berkesan dalam “Anti”, sebuah anthem doo-woop berjudul ‘Love On The Brain”. Jangan samakan dirinya dengan Meghan Trainor misalnya, karena doo-woop di tangan RiRi versi “Anti” berarti harapkan sesuatu yang cenderung lebih pekat dengan atmosfir gelap.

Balada lagi-lagi diantarkan RiRi dalam ‘Close to You’, yang bertugas untuk menutup album versi standar. Kali ini ia hanya ingin tampil ringan tanpa beban artistik tertentu. Mengalun lembut, mengantarkan pendengarnya dalam kesejukan nuansa romantis.

Untuk versi deluxe, kita akan mendapatkan 3 buah track, ‘Goodnight Gotham, sebuah interlude yang mengambil sample lagu milik Florence + Machine, ‘Only If For A Night”, serta ‘Pose’ dan lagu “nakal” berjudul ‘Sex with Me’, yang mengembalikan sisi jahil seorang RiRi.

Jadi, “Anti” bisa dibilang adalah sebuah proyek idealis/eksperimental dari seorang Rihanna. Beberapa lagu memang sukses sebagaimana visi yang diinginkannya, sedang beberapa lagu lain cenderung gampang dilupakan, terlepas dari betapa kuatnya nilai produksi lagu tersebut (sesuatu yang tak perlu diragukan dari seorang Rihanna).

Sebenarnya “Anti” mengingatkan akan “Rated R” (2009), sebuah album “gelap” lain milik RiRi, yang datang setelah 3 album pop yang sukses. “Rated R” pun banyak diisi dengan nomor-nomor kelam dan (mungkin) mudah dilupakan, dan hadir dua tahun setelah album breakthrough miliknya, “Good Girl Gone Bad” (2007). Mungkinkah ini sebuah pola, mengingat “Anti” juga datang setelah 3 album pop lain yang dirilis RiRi setelah “Rated R”. Apa salah lantas berharap jika di album berikutnya RiRi akan kembali ke ranah pop ringan kembali, dan dirilis dalam jeda setahun setelah “Anti”?

“Anti” jelas sebuah album yang memiliki teknis yang menjulang. Hanya saja tidak benar-benar memiliki konsep yang kuat. Ia seperti kumpulan beberapa lagu yang memiliki corak yang berbeda-beda dan dikompilasi dalam satu wadah. Akhirnya album terdengar “belang-belang”.

Namun, sebagai sebuah album pop tetap saja ia adalah album yang berkelas. Beberapa track bahkan brilian. Sekali lagi seorang Robyn Rihanna Fenty menegaskan jika dirinya bukan penyanyi pop biasa yang gampang takluk dengan selera pasar dan mengerti jika terkadang harus tampil memuaskan selera artistiknya sendiri.






Sumber: Creativedisc

Hymn For The Weekend



Setelah sukses dengan single pertamanya di Album A Head Full of Dreams, Adventure of A Life Time, Coldplay baru-baru ini merilis music video untuk single keduanya, Hymn For The Weekend. Single ini rilis di saluran youtube milik mereka pada 29 Januari 2016.





Jika kamu sudah mendengar album A Head Full of Dreams, kamu pasti sudah bisa menebak kalau suara wanita di single Hymn For The Weekend ini adalah Beyonce. Entah apa alasan Coldplay merahasiakan Beyonce dari albumnya (di album tidak ditulis kalau single ini featuring dengan Beyonce).




Dalam music videonya, terlihat Coldplay ingin menonjolkan keindahan dan adat India. Bahkan, Beyonce pun terlihat anggun dengan menggunakan pakaian adat dari negeri bombai tersebut. 

Jika kita melihat warna pada cover album A Head Full of Dreams, kita akan paham bahwa semua unsur warna dalam cover album tersebut dimasukan dalam music video ini. Menurut saya ini adalah satu hal yang genius. Saya bisa membayangkan betapa repotnya untuk mendapatkan komposisi gambar seperti itu. Thumb up!









Calvin Harris - Pray To God (feat. HAIM)




Calvin Harris mengejutkan publik dengan mengunggah sedikit cuplikan tentang single barunya yang berjudul Pray to God di akun instagram miliknya. Tak cukup dengan satu cuplikan, Calvin pun menghitung mundur kemunculan music video terbarunya itu dengan memberikan spoiler-spoiler di sana. Salah satunya:


Video kiriman Calvin Harris (@calvinharris) pada


Audio dari Pray to God ini telah dirilis terlebih dahulu pada 25 November 2014 di akun youtube resmi Calvin Harris. 


AUDIO


Lagu ini juga dapat kita temukan pada album keempat Calvin Harris yang berjudul Motion yang dirilis pada 31 Oktober tahun lalu. Selain HAIM, dalam album ini Harris juga berkolaborasi dengan beberapa penyanyi papan atas dunia. Beberapa di antaranya Gwen Stefani, Ellie Goulding, Big Sean dan John Newman.


Video musik pada lagu ini dirilis pada 10 Februari 2015 di akun youtube resmi milik Calvin Harris. Sejauh ini, tidak sedikit kalimat kagum serta pujian atas video ini yang bertengger di kolom komentar. 

Dikutip dari situs musik Rolling Stone, HAIM bersaudara berperan sebagai penyihir yang berada di musim dingin dipenuhi dengan serigala, merpati putih, dan kelinci salju.

"..the "Pray to God" video finds the sisters in Stevie Nicks sorceress mode, with Danielle, Este and Alana Haim traversing a wintery landscape full of wolves, white doves and snow rabbits as they sing along to Harris' track. The Haim sisters even recreate some Fleetwood Mac-esque harmonies together around the 2:40 mark of the video. Read more"



Lagu Favorite Katy Perry di 2014



Siapa sih yang kenal Katy Perry? Penyanyi Firework ini mengeluarkan sebuah pernyataan melalui akun Twitternya. Tante keti nyebutin salah satu lagu atau video klip yang paling dia sukai pada tahun 2014 ini. Lagu apakah ya itu?
Oh ternyata yang dia maksud adalah lagu dari Foster the People yang berjudul Coming of Age. Video klipnya sendiri baru banget dirilis secara resmi Kamis (6/2), kemarin.
Berikut adalah postingan tweet yang ditulis Tante Keti pada akunnya.



@katyperry

Video tersebut adalah klip debut dari Foster the People, dan lagu tersebut akan masuk pada album mereka yang berikutnya,SUPERMODEL. 


Pantes aja Tante Keti memuji lagu itu, soalnya bisa dibilang lagu itu catchy banget dan bisa dengan mudah diterima oleh telinga.

So, setuju ga kalian sama pernyataannya Tante Keti?





Justin Timberlake - Suit & Tie



"I be on my suit and tie shit, tie shit tie
 I be on my suit and tie shit, tie shit..."
Sebenernya ini lagu udah rilis dari bulan Februari. Tapi entah kenapa lagu ini belum jadi bomb.com di dunia permusikan internasional. 

Dengan konsep hitam putih yang diusung, ini terlihat sangat klop dengan musiknya. Gue ga tau ini genrenya apa. Tapi yang jelas gue enjoy banget kalo denger lagu ini. Bawaannya mau joged terus. Apa lagi kalo liat video klipnya, ngeliat si Justin joged tuh asik. Kaya yang gampang. Padahal mah kalo gue niruin engga ada miripnya sama sekali.

Kalo urusan suara, udah ga diraguin lah. Justin punya suara yang khas, enak banget didenger. Terbukti dia menang banyak banget penghargaan. Justin juga pinter milih genre musik yang pas sama suara dia. Ya, memang harus seperti itu. Justin ga banyak ngeluarin teknik vokal disini. Tapi semua itu terdengar pas. IMHO, gue lebih suka penyanyi yang tau kapan dia harus nge-improve dan kapan harus ngeluarin teknik vokal dibanding penyanyi yang terus-terusan nunjukin teknik vokal, itu cuma ngebuat gue cape buat ngedengernya. Jessie J, salah satunya. IMHO, loh ya~

Final word, lagu ini asik. Kalo denger lagu ini, bawaannya mau joged terus~~